• REDAKSI
  • Kode Etik
  • Visi Misi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Kamis, September 10, 2026
Targetindo.com
  • BERANDA
  • HEADLINE
    • PARIWARA
      • situs slot gacor
    • TARGETINDO TV
  • PERISTIWA
  • INVESTIGASI
  • BABEL
  • SUMBAR
    • DPRD
  • INTERNASIONAL
  • LAINNYA
    • JAMBI
      • ACEH
    • JAWA BARAT
      • JAWA TENGAH
    • JAWA TIMUR
      • KALIMANTAN
    • KEPULAUAN RIAU
      • LAMPUNG
    • RIAU
      • SULAWESI
        • bisawd
    • SUMSEL
      • SUMUT
        • Situs Slot Gacor
    • PAPUA
  • POLITIK
  • OPINI
  • HUKUM & KRIMINAL
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • HEADLINE
    • PARIWARA
      • situs slot gacor
    • TARGETINDO TV
  • PERISTIWA
  • INVESTIGASI
  • BABEL
  • SUMBAR
    • DPRD
  • INTERNASIONAL
  • LAINNYA
    • JAMBI
      • ACEH
    • JAWA BARAT
      • JAWA TENGAH
    • JAWA TIMUR
      • KALIMANTAN
    • KEPULAUAN RIAU
      • LAMPUNG
    • RIAU
      • SULAWESI
        • bisawd
    • SUMSEL
      • SUMUT
        • Situs Slot Gacor
    • PAPUA
  • POLITIK
  • OPINI
  • HUKUM & KRIMINAL
No Result
View All Result
Targetindo.com
No Result
View All Result

Orang orang Merdeka

Orang orang Merdeka
2.8k
VIEWS
Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

By : Dr. Syahganda Nainggolan

Beberapa hari lalu saya melihat tulisan Tjahja Gunawan Diredja berdedar di media sosial menyoroti soal ketidakpantasan  Jokowi selfie di bencana Banten/Lampung.

Saya mengenal dia puluhan tahun lalu sebagai wartawan di Bandung. Terakhir dia menulis biography Chairul Tanjung si Anak Singkong.

Tulisan dia yang melakukan kritik terhadap rezim Jokowi, menambah jumlah wartawan senior atau mantan sebagai penulis2 volunteer dalam membela kebenaran di masyarakat kita.

Keheranan saya yang bercampur kekaguman saat ini berfokus pada banyaknya mantan2 wartawan top saat ini membuat tulisan2 di media sosial untuk mengkritik Jokowi dan pendukung2nya.

Tentu saja mereka sebagian besarnya, kalau tidak semua, juga membela Prabowo Subianto.

Awalnya penulis2 eks wartawan di kelompok oposisi hanya nama2 itu saja, seperti Naniek S Dayeng, Djoko Edhi Abdurrahman, Zeng Wie Jan, dan  Nasihin (Nasihin sekarang menghilang atau menghilangkan dirinya?). Namun, saat ini sudah berpuluh eks wartawan yang menulis sebagai oposisi. Ada Asyari Usman, Hersubono Arief,  Tony Rasyid, M Ali, Nasrudin Joha, Tjahja Gunawan dll. yang saya sulit menghapal namanya.

Oh dulu juga ada alm. Derek Manangka, yang bahkan membuat tulisan “Jokowi ada Affair dengan Rini Sumarno”. Kita doakan saja beliau masuk Surga. Aamiin

Kenapa kita perlu mencatat fenomena ini? pentingkah?

Ada 3 hal yang menjadi alasan bagi kita untuk membahas tentang mereka. 1) Soal idealisme. 2) Soal kemampuan menulis. 3) “Seeking the Truth”.

1) Soal idealisme, ini benar benar menyentakkan kita. Sebab, mayoritas wartawan saat ini identik dengan amplop. Berbeda di masa lalu, di mana wartawan identik dengan perjuangan. Jaman Mocthar Lubis, misalnya, menjadi wartawan dianggap sebuah idelalisme.

Jus Soema Dipraja, misalnya, bergabung dengan pemberontak Malari, th 74, ketika koran di mana dia menjadi wartawan dianggapnya tidak sejalan dengan hati nurani.

Tentu wartawan bajingan juga ada di masa lalu. Namun, wartawan sebagai simbol idealisme menjadi mainstream. Sehingga pemilik koran atau media memberi ruang kebebasan bagi wartawan dan keredaksian.

Namun, sejak media menjadi industri dan sumber uang, informasi dan berita harus tunduk pada kepentingan pemilik modal. Wartawan dianggap hanya sebagai alat produksi. Karyawan semata.

Disinilah awal hilangnya idealisme.

Wartawan wartawan atau mantan yang semakin banyak menulis di dunia media sosial menulis tanpa uang. Mereka bukan seperti konsultan politik, misalnya seperti Denny JA yang dibayar mahal untuk setiap Meme. Saya coba tanyakan hal itu ke Kisman Latumakulita, yang mengenal mereka, menurut Kisman semuanya volunteer.

2). Soal kemampuan menulis. Wartawan senior biasanya terkena doktrin 5W+1 (what, who, when, where, why dan how). Doktrin ini membuat mereka jeli, dalam dan “cover both side” dalam menulis. Ini beda dengan kebanyakan generasi medsos, generasi “copy paste” dan “forward”. Apalagi jika menulis atau penulis berbayar, tentu yang disajikan hanyalah data data dan informasi propaganda, untuk medukung kelompoknya saja.

Dengan kemampuan menulis ala doktrin 5W+1 itu, Asyari Usman, Arief Sofianto, Tony Rasyid, Nasrudin Joha, hersubeno Arif dll, juga terkahir ini Tjahja Gunawan menghadirkan tulisan berkelas. Tulisan berkelas artinya menampilkan fakta sebagai alat ukur. Sehingga kebenaran yang dicari pembaca bukan manipulasi, melainkan hal nyata.

3) “Seeking the truth”

Terlepas dari keterbelahan masyarakat (divided society) saat ini, masyarakat yang terbelah itu juga ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya atas sebuah informasi yang beredar.

Hal ini tentu sulit didapatkan saat ini. Karena media sebagai pilar informasi sudah menjadi industri. Bahkan, lebih parah dari industri, media sudah lebih jauh berubah menjadi alat propaganda penguasa. (beberapa media alternatif saat ini seperti rmol, teropong senayan, tabayun, eramuslim, nusantaranews, seruji, ahad, swamedium, pribuminews, faktanews, suaramerdeka, dlsb. menjadi serbuan alternatif rakyat yang muak dengan informasi versi pemerintah)

Di masa Suharto, ketika media dikontrol penguasa untuk memberitakan semua kebaikan penguasa, masih ada cela kebaikan karena wartawan2 saat itu masih independen. Saat ini mencari wartawan baik pun susah.

Penulis2 (eks) wartawan senior ini pada kelompok oposisi akhirnya berfungsi menjadi pencerah dalam konteks mendapatkan informasi yang benar.

Banyak penulis seperti saya, eddy junaidi, salamuddin daeng, Dr. ahmad yani dlsb bahkan Sri Bintang telah dipersepsikan begitu bias. Penulis seperti saya misalnya, seringkali menghindari “cover both side”. Meskipun tentunya soal “truth” yang saya sampaikan memenuhi unsur. (“Truth vs falsehood” yang diperbincangkan Aristoteles dan Plato  dalam Theory of Correspondence dan Bertrand Russell dalam Theory or Coherence, bagi seorang ideolog tidak sepenuh benar. ini bahasan lain nantinya).

Sebaliknya, penulis2 berlatar belakang wartawan ini menyajikan fakta lengkap, sehingga lebih utuh informasinya. Ada kehausan masyarakat kepada tulisan mereka.

Dalm tulisan ini, saya melihat penulis2 (eks) wartawan ini adalah orang2 merdeka, karena tiga alasan penting tadi sebagai latarbelakang kajian kita: idelaisme, kemampuan menulis dan “seeking the truth”. Mereka manusia2 pencerah, namun tak berbayar. Tanpa bayaran, mereka menjadi jaminan kemerdekaan mereka berpikir. Kemerdekaan berpikir tentu membuat mereka menjadi rujukan rakyat, disampinng kaum ideolog. Rujukan ini minimal untuk kebutuhan rakyat oposisi yang cinta kebenaran.

Previous Post

Walikota Padang Apresiasi Daurah Tahfiz Quran 

Next Post

Dahsyatnya Sebuah Pena

Next Post
Dahsyatnya Sebuah Pena

Dahsyatnya Sebuah Pena

Bangkrutnya Toko Tentara

Bangkrutnya Toko Tentara

Menjelang Pergantian Tahun, Guru Mengaji dan PAUD Terima Insentif

Menjelang Pergantian Tahun, Guru Mengaji dan PAUD Terima Insentif

Discussion about this post

  • REDAKSI
  • Kode Etik
  • Visi Misi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Email : [email protected]

© 2020 PT TARGET INDO CENTRAL GROUP situs gacorslot gacorSlot MaxwinSlot777Link Slot Gacorsitus slot gacorSlot Terpercaya

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • HEADLINE
    • PARIWARA
      • situs slot gacor
    • TARGETINDO TV
  • PERISTIWA
  • INVESTIGASI
  • BABEL
  • SUMBAR
    • DPRD
  • INTERNASIONAL
  • LAINNYA
    • JAMBI
      • ACEH
    • JAWA BARAT
      • JAWA TENGAH
    • JAWA TIMUR
      • KALIMANTAN
    • KEPULAUAN RIAU
      • LAMPUNG
    • RIAU
      • SULAWESI
    • SUMSEL
      • SUMUT
    • PAPUA
  • POLITIK
  • OPINI
  • HUKUM & KRIMINAL

© 2020 PT TARGET INDO CENTRAL GROUP situs gacorslot gacorSlot MaxwinSlot777Link Slot Gacorsitus slot gacorSlot Terpercaya

https://febm.umrah.ac.id/unik-kegiatan-mahasiswa-ukm/ https://siladikti.kopertis7.go.id/ https://cvpulsa.id/tutorial https://brida.sultengprov.go.id/ https://ppid.umrah.ac.id/ slot gacor